Emirates Cup adalah turnamen awal musim kedua yang diikuti Juve di awal musim 2008-2009 selain Trofeo TIM. Emirates Cup diikuti empat tim yakni penyelenggara Arsenal dan tiga tim undangan yakni Juve, Real Madrid, dan Hamburg SV.
Melihat permainan Juve di turnamen ini saya selaku fans Juve mengaku kecewa. di dua pertandingan yang dimainkan, Juve tampil sangat buruk. Di pertandingan pertama walau menang 1-0 dari tuan rumah Arsenal tapi patut diakui kemenangan ini diperoleh hanya dengan keberuntungan, bukan dengan permainan menawan. Gol yang tercipta pun murni offside dari Trezeguet, hanya karena hakim garis tidak jeli melihat kejadian ini maka gol ini pun disahkan, selebihnya anak-anak Juve dipermainkan oleh pemain-pemain muda Arsenal. Sepanjang pertandingan Juve terus ditekan oleh tuan rumah, yang hanya karena tidak didukung dewi fortuna dan ketangguhan lini belakang Juve akhirnya harus menelan kekalahan.
Pada pertandingan kedua penampilan Juve jauh lebih buruk, lini tengah yang tak mampu mengimbangi lini vital milik Hamburg ini akhirnya Juve harus menyerah kalah 3 gol tanpa balas. Buruknya kinerja lini tengah menyebabkan lini belakang mudah ditembus dan lini depan menjadi tumpul. Albin Ekdal dan Christian Poulsen bermain belum in dengan rekan-rekannya di lini tengah. Setelah Ekdal digantikan Marchionni permainan mulai agak hidup tapi tetap saja masih terlihat rapuh dan tak mampu memberikan perlawanan yang berarti bagi lini tengah Hamburg. Penampilan Frank Rost, kiper gaek Hamburg yang bermain cemerlang juga membuat penyerang Juve putus asa, ketidakmampuan menyamakan kedudukan saat skor masih 1-0 membuat lini belakang lengah dan kecolongan dua gol saat injury time babak kedua.
PR bagi Ranieri bagaimana cara membuat lini tengah yang lebih solid untuk menghadapi kualifikasi Liga Champion yang aka dimulai pekan depan, juga untuk mengahadapi rival-rival kuat di Serie A yang akan dimulai September nanti.
Penampilan yang terbaik masih saya nantikan.
FORZA JUVE!!!
Tempat berbagi ilmu, pengalaman, dan cerita, serta unek-unek, dan hobi.. Selamat Membaca, Merenung, Mengkomen, dll...
Minggu, 03 Agustus 2008
Minggu, 06 Juli 2008
Spanyol Layak Juara
Kali ini saya coba mereview EURO 2008 yang baru saja selesai 30 Juni yang lalu lewat kacamata saya sebagai penikmat bola. Spanyol layak juara, itu judul blog ini dan menurut saya itu kata-kata yang banyak dibicarakan orang setelah mereka merebut gelar juara Piala Eropa mereka yang kedua 30 Juni lalu, dan menurut saya hala ini benara adanya.
Saat awal turnamen dimulai Jerman, Portugal, dan Spanyol ada di papan atas tangga taruhan di seluruh dunia, melihat penampilan perdana mereka di turnamen tidak ada yang menyangkal bahwa pertandingan final pastilah menyajikan pertarungan antara salah dua dari tim-tim ini, walau Belanda sempat menggebrak lewat kemenangan 3-0 atas juara dunia Italia. Portugal mampu mengatasi Turki dengan 2-0, Jerman mengatasi Polandia dengan 2-0, dan Spanyol dengan mantap menghancurkan Rusia 4-1. Tapi melihat penampilan kedua mereka Jerman melorot posisinya setelah dikalahkan Kroasia 2-1, sedangkan Portugal dan Spanyol tetap mantap di puncak tangga taruhan setelah mengalahkan lawan-lawannya di pertandingan kedua, Belanda menyodok ke peringkat tiga stelah menghancurkan Perancis 4-1, Kroasia menjadi kuda hitam di peringkat ke-4. Dari segi permainan pun Spanyol dan Portugal terlihat mantap memainkan sepak bola indah yang mengundang decak kagum membuat banyak penggila bola mulai menjagokan mereka untuk tampil di final.
Mencapai pertandingan ketiga, Portugal yang menurunkan hampir semua pemain cadangannya kalah 0-2 lawan Swiss, sedangkan Spanyol yang juga menurunkan semua pemain lapis keduannya menang atas Yunani 2-1, begitu pula dengan skuad kedua Belanda yang membungkam Rumania 2-0 membuat peta kekuatan beralih ke Belanda dan Spanyol. Sampai akhir babak penyisihan grup Spanyol terlihat masih oke dan terus berjalan mantap menuju gelat juara.
Di babak perempat final banyak pengamat meremehkan Spanyol yang harus berhadapan denga Italia, sejarah memihak Italia, tapi apa mau di kata sejarah pun luluh lantak di hadapan Spanyol yang kala itu bermain solid untuk menuntaskan perlawanan sang juara dunai 4-2 lewat adu pinalti. Belanda yang digadang-gadang bakal ke final di hancurkan anaknya sendiri 'sang pengkhianat' Guus Hiddink dengan pasukan beruang merahnya Rusia 1-3, Jerman yang disinyalir kesulitan ketika bertemu Portugal menunjukkan kelasnya dengan menang 3-2, sedangkan Turki yang selama penyisihan grup lolos hoki-hokian kembali memunculkan drama denga mengalahkan Kroasia 3-1 lewat adu pinalti.
Semifinal mempertemukan Spanyol kembali dengan Rusia dan Jerman bertemu Turki. Banyak penggila bola berkata hanya keledai yang jatuh di tempat yang sama dua kali, mengindikasikan Rusia yang bakal menang dari Spanyol, tapi nyatanya memang Rusia sama dengan keledai harus menerima kenyataan kembali kalah kali ini dengan 3-0. Sedangkan pertandingan Turki kembali diwaranai drama tapi kali ini Jerman pemenangnya denagn 3-2.
Final mempertemukan spesialis turnamen Jerman vs spesialis kualifikasi Spanyol, pertandingan yang cukup menarik akhirnya memunculkan Spanyol sebagai juara. melihat permainan mereka dari babak penyisihan grup hingga final memang Spanyol layak juara.
Saat awal turnamen dimulai Jerman, Portugal, dan Spanyol ada di papan atas tangga taruhan di seluruh dunia, melihat penampilan perdana mereka di turnamen tidak ada yang menyangkal bahwa pertandingan final pastilah menyajikan pertarungan antara salah dua dari tim-tim ini, walau Belanda sempat menggebrak lewat kemenangan 3-0 atas juara dunia Italia. Portugal mampu mengatasi Turki dengan 2-0, Jerman mengatasi Polandia dengan 2-0, dan Spanyol dengan mantap menghancurkan Rusia 4-1. Tapi melihat penampilan kedua mereka Jerman melorot posisinya setelah dikalahkan Kroasia 2-1, sedangkan Portugal dan Spanyol tetap mantap di puncak tangga taruhan setelah mengalahkan lawan-lawannya di pertandingan kedua, Belanda menyodok ke peringkat tiga stelah menghancurkan Perancis 4-1, Kroasia menjadi kuda hitam di peringkat ke-4. Dari segi permainan pun Spanyol dan Portugal terlihat mantap memainkan sepak bola indah yang mengundang decak kagum membuat banyak penggila bola mulai menjagokan mereka untuk tampil di final.
Mencapai pertandingan ketiga, Portugal yang menurunkan hampir semua pemain cadangannya kalah 0-2 lawan Swiss, sedangkan Spanyol yang juga menurunkan semua pemain lapis keduannya menang atas Yunani 2-1, begitu pula dengan skuad kedua Belanda yang membungkam Rumania 2-0 membuat peta kekuatan beralih ke Belanda dan Spanyol. Sampai akhir babak penyisihan grup Spanyol terlihat masih oke dan terus berjalan mantap menuju gelat juara.
Di babak perempat final banyak pengamat meremehkan Spanyol yang harus berhadapan denga Italia, sejarah memihak Italia, tapi apa mau di kata sejarah pun luluh lantak di hadapan Spanyol yang kala itu bermain solid untuk menuntaskan perlawanan sang juara dunai 4-2 lewat adu pinalti. Belanda yang digadang-gadang bakal ke final di hancurkan anaknya sendiri 'sang pengkhianat' Guus Hiddink dengan pasukan beruang merahnya Rusia 1-3, Jerman yang disinyalir kesulitan ketika bertemu Portugal menunjukkan kelasnya dengan menang 3-2, sedangkan Turki yang selama penyisihan grup lolos hoki-hokian kembali memunculkan drama denga mengalahkan Kroasia 3-1 lewat adu pinalti.
Semifinal mempertemukan Spanyol kembali dengan Rusia dan Jerman bertemu Turki. Banyak penggila bola berkata hanya keledai yang jatuh di tempat yang sama dua kali, mengindikasikan Rusia yang bakal menang dari Spanyol, tapi nyatanya memang Rusia sama dengan keledai harus menerima kenyataan kembali kalah kali ini dengan 3-0. Sedangkan pertandingan Turki kembali diwaranai drama tapi kali ini Jerman pemenangnya denagn 3-2.
Final mempertemukan spesialis turnamen Jerman vs spesialis kualifikasi Spanyol, pertandingan yang cukup menarik akhirnya memunculkan Spanyol sebagai juara. melihat permainan mereka dari babak penyisihan grup hingga final memang Spanyol layak juara.
Rabu, 04 Juni 2008
Del Piero Manusia 4 EURO
Del Piero menjadi legenda Italia dengan menjadi satu-satunya orang yang pernah mengalami bemain bagi timnas Italia sebanyak 4 kali di perhelatan sepakbola Eropa, Piala Eropa. Piala Eropa pertama bagi Del Piero adalah EURO 1996, selanjutnya ia kembali membela Gli Azzuri di EURO 2000 di mana Italia menjadi finalis, Piala Eropa ketiganya adalah EURO 2004 saat Italia gagal total karena gagal lolos penyisihan grup, sekarang mungkin akan menjadi perhelatan terakhir il capitano Juventus tersebut di Piala Eropa juga d ajang-ajang internasional lainnya bersama timnas Italia di EURO 2008, Del Piero ingin mengakhiri petualangan internasionalnya dengan Gli Azzuri dengan meraih juara di Austria-Swiss 2008.
Walau harus bersaing memperebutkan posisi line-up untuk the best eleven Del Piero masih yakin dengan kemampuannya dan menyatakan tidak takut jika harus bersaing dengan Antonio di Natale dan si bengal Antonio Cassano untuk menjadi pendamping Luca Tono di lini depan Italia.
Berada di grup neraka pun tidak membuat gentar hati Alex, dia yakin dengan kemampuan yang dimiliki rekan-rekannya di timnas dan kemampuan Roberto Donadoni sebagai arsitek tim Italia mampu keluar dari tekanan 3 tim lainnya di grup C, yakni Belanda, Prancis, dan Romania. Mendukung pernyataan Franz Beckenbauer, Alex menyatakan Jerman akan bertemu Italia di final.
Walau harus bersaing memperebutkan posisi line-up untuk the best eleven Del Piero masih yakin dengan kemampuannya dan menyatakan tidak takut jika harus bersaing dengan Antonio di Natale dan si bengal Antonio Cassano untuk menjadi pendamping Luca Tono di lini depan Italia.
Berada di grup neraka pun tidak membuat gentar hati Alex, dia yakin dengan kemampuan yang dimiliki rekan-rekannya di timnas dan kemampuan Roberto Donadoni sebagai arsitek tim Italia mampu keluar dari tekanan 3 tim lainnya di grup C, yakni Belanda, Prancis, dan Romania. Mendukung pernyataan Franz Beckenbauer, Alex menyatakan Jerman akan bertemu Italia di final.
Langganan:
Postingan (Atom)